Minggu, 12 Oktober 2014

BEBERAPA KEUTAMAAN DAN KEBERKAHAN HARI SENIN DAN KAMIS

Di antara keutamaan dan keberkahannya, bahwa pintu-pintu Surga dibuka pada dua hari tersebut, yaitu Senin dan Kamis. Pada saat inilah orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan. Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا."

"Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. [1] Lalu dikatakan, ‘Tundalah [2] pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” [3]

Keutamaan dan keberkahan berikutnya, bahwa amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

"تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ."

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan...” [Al-Hadits] [4]

Karena itu, selayaknya bagi seorang Muslim untuk menjauhkan diri dari memusuhi saudaranya sesama Muslim, atau memutuskan hubungan dengannya, ataupun tidak memperdulikannya dan sifat-sifat tercela lainnya, sehingga kebaikan yang besar dari Allah Ta’ala ini tidak luput darinya.
2. Keutamaan hari Senin dan Kamis yang lainnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias berpuasa pada kedua hari ini.
Sebagaimana yang terdapat dalam sebagian kitab hadits dari ‘Aisyah Rahiyallahu anhuma, ia mengatakan,

"كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ."

”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis ”.[5] 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,

"تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ."

“Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya] [6]
Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
 
"ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ."

“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya al-Qur-an kepadaku pada hari tersebut.” [7]

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Dan tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” [8]
Berdasarkan argumentasi dari hadits-hadits ini, maka disunnahkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada dua hari ini, sebagai puasa tathawwu’ (sunnah).
3. Keutamaan lain yang dimiliki hari Kamis, bahwa kebanyakan perjalanan (safar) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada hari Kamis ini.
Beliau menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis. Sebagaimana tercantum dalam Shahih al-Bukhari bahwa Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan:

"لَقَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِي سَفَرٍ إِلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ."

“Sangat jarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (untuk melakukan perjalanan) kecuali pada hari Kamis.”

Dalam riwayat lain yang juga dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu:

"أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ فِي غَزْوَةِ تَبُوْكَ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ."

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Kamis di peperangan Tabuk, dan (memang) beliau suka keluar (untuk melakukan perjalanan) pada hari Kamis.” [9]

[Disalin dari buku At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, Judul dalam Bahasa Indonesia Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Penulis Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. An-Nihaayah karya Ibnul Atsir (IV/449).
[2]. Maksudnya, akhirkanlah keduanya. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (XVI/123)
[3]. Shahih Muslim (IV/1987) Kitabul Birr was Sihilah wal Aadaab.
[4]. Shahih Muslim (IV/1988) Kitabul Birr was Shilah wal Aadaab.
[5]. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmudzi dalam Sunannya (III/121) Kitabush Shaum, an-Nasa-i dalam Sunannya (IV/202) Kitaabush Shaum, Ibnu Majah dalam Sunannya (I/553) Kitaabush Shiyaam dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (VI/106).
[6]. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (III/122) Kitaabus Shaum bab Maa Jaa’a fii Shaum Yaumil Itsnain wal Khamiis dari Abu Hura-irah. At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini Hasan Gharib.” Namun menurut Abu Dawud hadits ini memiliki syahid (penguat). Lihat Sunan Abi Dawud Ma’a Badzlil Majhuud (XI/304) Kitabush Shaum bab Shaum Yaumil Itsnain wal Khamiis.
[7]. Ini merupakan bagian dari hadits Abu Qatadah al-Anshari Radhiyallahu anhu yang diriwa-yatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/819) Kitaabush Shiyaam.
[8]. Lihat Subulus Salaam, karya ash-Shan’ani (II/330).
[9]. Shahih al-Bukhari (IV/6) Kitaabul Jihad was Sair.

Sumber : 
http://almanhaj.or.id/

Minggu, 27 April 2014

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لا تغضب ولك الجنة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”
Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’
Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,
الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,
إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,
يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Selasa, 23 Juli 2013

BERANI MENCOBA YANG BARU

http://1.bp.blogspot.com/__hspjzfC024/TEKsPYB3sOI/AAAAAAAABj8/bsp1Q2Cno70/s400/orthodox-Muslim.jpgZaman modern seperti sekarang ini sungguh  sanagt pesat sekali, baik perkembangan industry apalagi perkembangan di bidangtehnologi komonikasi sungguh demikian canggihnya.
 Seakan dunia ada didalam genggaman kita, sekat-sekat antar Negara seperti terbuka lebar. Sehingga satu peristiwa atau informasi yang terjadi pada hari ini di satu Negara terjauh sekalipun, hari ini pula dapat kita ketahui. Demikian pula kemajuan-kemajuan di bidang lain, telah dapat mempermudah kegiatan manusia dalam memenuhi hajatnya.
            Kemajuan tersebut sekaligus menjadi tantangan umat Islam, paling tidak mestinya umat Islam bisa memanfaatkan kemajuan ini demi perkembangannya dan menjadikan Islam sebagai wahana untuk rahmatan lil alamin. Meskipun kita sadar bahwa adanya kemajuan di segala bidang sekarang ini di sisi lain membawa dampak yang sangat luas. Sebagian dari kita umat Islam nyatanya belum mampu menerima ini semua, bahkan diantara kita yang terpengaruh begiitu jauh dan bahkan tergila-gita dengan kemajuan tersebut, sehingga banyak yang lupa akan jati diri, kebutuhan rohani terabaikan, meremehkan peranan agama, bahkan meninggalkan sama sekali akan perintah agama, msekipun di bajunya masih ada atribut Islam. Mereka terbuai dengan kenikmatan dan kemudahan yang diperoleh dari adanya kemajuan zaman yang serba indah.
            Keadaan seperti ini terjadi disebabkan oleh karena pertahanan iman yang sangat rapuh. Keimanan yang sangat rapuh ini menjadikan kita sangat mudah tertipu oleh gemerlapnya dunia, sehingga makin lama iman kita menjadi luntur dan terkubur. Maka bila iman kita telah luntur dan terkubur, tentu agama akan tertinggalkan.  Agama hanya dijadikan identitas semata, “Kamu hari ini jmlahnya banyak, akan tetapi kamu bagaikan buih diatas permukaan air, dicabut rasa takut musuhmu terhadapmu, dan menjadikan dalam hatimu al wahn, cinta dunia dan takut mati”. (HR.Ahmad).
            Begitu pula bagi sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa beribadah tidak akan menjadi kaya, tentu sangat merugikan bagi keutuhan iman. Hal itu lama-kelamaan akan mengikis motivasi keagamaan umat Islam, sebab dipandang bahwa agama menjadi tidak penting, tidak ada gunanya bagi hidupnya. Bahkan agama dianggap menjadi penhambat kemajuan, menghambat kegiatan duniawiyahnya, sehingga waktu yang digunakan untuk melaksanakan perintah agama, menjadi terbuang sia-sia. Kecenderungan yang berlebihan terhadap urusan keduniaan menjadikan kita melecehkan agama, seolah-olah agama sudah tidak dibutuhkan lagi, yang menjadikan kita malas berfikir akan hakekat hidup yang sebenarnya. Kita telah diperhamba oleh dunia dan permainannya, “Sesungguhnya hidup dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”. (QS. Muhammad:36).
            Keadaan seperti ini menjadi tantangan yang sungguh berat bagi pelaksana kegiatan dakwah. Didalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat modern ini, seseorang da’I dituntut mempunyai inovasi dalam berdakwah, dengan cara mencoba yang baru didalam kegiatan dakwahnya. Meskipun jalan yang ditempuh terlihat kontroversi, atau mungkin bagi kebanyakan orang kegiatan itu sangat sederhana. Langkah awal menuju dakwah inovatif ini adalah adanya keberanian untuk mau mengambil resiko sekecil apapun. Sebab berbicara masalah dakwah adalah berbicara masalah umat dengan segala problematika kehidupannya, untuk dicarikan solusi pemecahan. Sehingga apa yang ia lakukan merupakan media jihad dan media hijrah menuju kesempurnaan tatanan hidup dalam kehidupan manusia.
            Keberhasilan langkah-langkah dakwah yang kita lakukan juga banyak ditentukan adanya pengalaman pelaksana dakwah. Sebab pengalaman merupakan guru yang sangat bijaksana. Orang yang mempunyai pengalaman banyak, didalam tindakannya banyak pilihan-pilihan. Apabila satu langkah dirasa kurang tepat ia akan mengambil langkah lain yang lebih sesuai. Di sisi lain ia tak segan-segan belajar dari pengalaman orang lain. Dengan demikian ia akan mudah menghadapi perkara-perkara yang ruwet sekalipun. Dengan pengalaman-pengalaman yang dimulai dengan mencoba lalu salah akan timbul penalaran yang luas, matang jiwanya. Sehingga mempunyai sikap yanga rif dan bijaksana. Sebab banyak orang yang hidupnya secara duniawiyah berhasil dimulai dari mencoba perkara-perkara atau usaha baru yang sebelumnya belum dimengerti.
            Mencoba yang baru merupakan tindakan yang banyak mengandung resiko. Namun yang namanya resiko, sebetulnya merupakan hal yang lumrah dalam setiap kegiatan. Da’I dan mubalighpun menghadapi resiko yang sangat berat, ia sering mendapat tantangan dari orang yang senang berbuat kerusakan. Seorang da’i/muballigh sering dicaci, dikritik dan tindakannya selalu dievaluasi orang lain. Kerenanya ia merupakan agent of change dan central figure yang berupaya menempatkan diri sebagai pembaharu moralitas umat, menuju kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Maka inovasi dakwah merupakan modal dasar akan keberhasilan dalam kegiatan mengajak. Disisi lain seorang da’i/muballigh harus juga beerani menjadi contoh bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus berani juga memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengajak orang lain. Karena jangan sampai kegagalan diri ditulrkan kepada obyek dakwah. Sebab konsep “mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk” sangat relevan sebagai slogan dakwah. Meskipun slogan itu sering diartikan oleh obyek dakwah dengan arti yang bersifat kebendaan (sandal-sepatu).
            Masalahnya adalah mau atau tidak mencoba perkara-perkara yang baru, yang disesuaikan dengan pola pemikiran masyarakat di zaman modern sekarang ini. Sebab apabila kita mengandalkan pada pola-pola konvensional, dikhawatirkan masyarakat merasa jenuh. Sehingga hasil yang akan kita capai tidak akan terlaksana. Di sisi lain menggunakan media canggih, sebagian masyarakat kita belum mampu. Ini justru yang menarik dari ilmu dawah. Ilmu yang sangat kompleks permasalahannya, karena langsung bersinggungan dengan pemenuhan hajat hidup  umat diseluruh alam, yang mencakup dunia akhirat. Meskipun dakwah sangat erat dengan persoalan iman dan taqwa kepada Allah SWT, akan  tetapi karena cakupannya yang sangat luas itu, maka dakwah selalu menarik untuk dibicarakan. Sebagai ilmu terapan, dakwah dibutuhkan adanya tangan-tangan yang inovatif.
            Puncak dari inovasi yang dimaksud adalah seorang da’I dan muballigh harus pandai-pandai memilih materi dan mediayang tepat dalam menghadapi satu obyek dakwah. Sebab bagi masyarakat modern, yang saban hari dihadapkan dengan rutinitas pekerjaan yang sibuk, belum tentu cocok menggunakan media dakwah yang canggih. Sebab ada kalanya mereka menginginkan nuansa baru yang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya dengan menggunakan media yasinan dan tahlin, membaca asma’ul khusbna bersama-sama, mungkin lebih efektif dan mengena sasaran. Di lain fihak untuk kalangan masyarakat pedesaan yang tradisionalis, mungkin saja lebih tertaruk dengan cara dan media dakwah yang modern, misalnya dakwah (menerangkan satu persoalan agama) menggunakan laktop, yang dilengkapi dengan keterangan berbentu tulisan gambar-gambar ataupun vedio menarik justru lebih mengena.
            Tetapi meskipun demikian kita harus tetap menggunakan cara yang hikmah, sebab dengan cara yang Allah pilihkan ini insya Allah dakwah akan tetap menarik dan banyak diminati, baik oleh pelaku maupun obyek dakwah. Dengan cara yang hikmah, Islam akan selalu hadir di hati umat. Islam dapat dirasakan akan kebenarannya, serta merasakanmakna yang sesungguhnya atas ajaran yang dikandungnya. Disini kita menemukan ketenangan hakiki. Mereka merasakan bahwa ajaran Islam telah memberikan terapi yang paling mujarab untuk mengatasi berbagai konflik kejiwaan, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmatbagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra’:82). Demikian pula kita merasakan bahwa Islam menjadi sangat penting hadir ditengah-tengah kemajuan industry, bahkan kemajuan yang secanggih apapun tetap sangat dibutuhkan. Wallahu a’lam.

Senin, 15 Juli 2013

Tips Mengatasi Malas Shalat 5 Waktu

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim

Shalat adalah tiang agama. Nah lho, .. kalau tidak shalat berarti tiangnya kemana? Rasa malas sering datang ketika waktunya shalat.

Bagaimana cara mengatasinya? Yuk simak tips
berikut :
1. NIAT
Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Niatkan pada diri kita untuk selalu shalat tepat di awal waktu. Bersungguh-sungguhlah melawan rasa malas itu. Jangan sampai rasa malas menguasai diri kita.
2. THE POWER OF HABIT
Biasakanlah untuk shalat lima waktu berjama'ah dimasjid (bagi pria), walau pada awalnya terasa berat tapi kalau sudah dibiasakan akan terasa ringan bahkan kita akan merasa rugi bila meninggalkannya.
3. KONTROL DIRI
Jika rasa malas itu kembali menggerogoti kita, lawan saja. Ingat kewajiban kita sebagai orang muslim, ingatlah balasan/adzab Allah terhadap orang-orang yang meninggalkan shalat.
4. JANGAN PERNAH DITUNDA
Jika adzan telah dikumandangkan, segeralah untuk berwudhu. Apabila sedang melakukan aktivitas sepenting apapun, berhentilah sejenak. Ini mungkin yang susah dilakukan, tapi menunda shalat akan menimbulkan rasa malas nantinya. Jangan tunda, segera laksanakan shalat.
5. KOMITMEN
Komitmen terhadap diri sendiri. Shalat itu kewajiban, dan kewajiban itu harus dilaksanakan. Lakukan terus secara konsisten, sehingga shalat pun berubah fungsi menjadi kebutuhan. Rasa malas itu bisa datang kepada siapa saja. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Yang terpenting adalah
niat, usaha, kemauan dan komitmen untuk melakukan shalat 5 waktu tepat waktu.

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.

Sumber: fb.com/MotivationLoveMuslim

Jumat, 12 Juli 2013

Cinta Allah Tak Bertepi


Allah SWT adalah Dzat Pemilik cinta tak bersyarat.Dia Mencintai semua hambanya tanpa mengharapkan balasan apun.Allah SWT selalu mencintai hambanya walaupun hambanya selalu berbuat zalim dan tetap membangkang dari perintah-Nya.Maka, Tak berlebihan bila bulan ramadhan dikatakan sebagai Bulan Cinta,bulan dimana Allah SWT membuka pintu-pintu kecintaanya.
Bukti cinta Alah SWT itu terwujud dalam panggilan cinta yang mesra terhadap Orang-orang beriman ketika Allah SWT Mewajibkan ibadah Puasa.Bukan sisi kemanusiaan yang Allah SWT sentuh,Bukan Nama personal yang dipanggil, juga bukan lebel lainya, Tapi Allah SWT Memangil hamba-hamba-Nya Dengan Pangilan Kimanan.   Allah SWT berfirman yang Artinya Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS.Al-Baqarah : 183)

Samudera cinta AllahSWT Kepada umat manusia digambarkan Rasulullah SAW dalam berbagai sabda-Nya :
“Telah datang kepadamu bulan ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkanmu puasa di dalamnya; pada bula ini pintu-pintu surga dibuka,pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat;juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, Barang siapa tidak memperoleh kebaikanmaka dia tidak akan memperoleh apa-apa.” (HR.Ahmad dan An Nasa’i)

“telah datang kepadamu bulan ramadhan,bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat,menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini. Allah membangga-banggakan kamu dihadapan malikat-Nya, Maka tunjukan lah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah orang yang tidak mendapatkan rahmat allah dibulan ini.”(HR.Thabrani diriwayatkan oleh tsiqah)
Beragam amaliyahibadah ramadhan Allah SWT persiapkan agar para kekasih-Nya terpenuhi kebutuhan ruhaninya,sehat fisiknya, stabil emosinya, harmoni kehidupanya.

Muda-mudahan kita menjadi hamba allah yang beruntung..Aminn…

Minggu, 07 Juli 2013

Halaman Resmi Risma Al-Ikhlas Kampung Baru

Assalamualaikum Wr Wb

Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan Rahmat, Hidayah, Serta inayahnya Kepada kita,  Sehingga Risma Dapat Berdakwah melalui Tulisan. Insya' Allah..
Sholawat Serta Salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.. yang Telah Merevolusi islam untuk patuh dengan tuntunan Allah...

Semoga dengan Kehadiran Blog ini dapat memberikan manfaat bagi umat islam dan Risma Al-Ikhlas khususnya.. Dan Kami mohon dukungan dan bimbingan pembaca semua agar Blog ini tetap berada pada naungan Allah SWT.." Untuk Menjadi Tuntunan Ilmu Yang Bermanfaat Bagi Kita Semua".
Amiin..

Akhir kata bilahitufiq hidayah  Wassalamu'alaikum Wr.Wb