Zaman modern seperti
sekarang ini sungguh sanagt pesat
sekali, baik perkembangan industry apalagi perkembangan di bidangtehnologi
komonikasi sungguh demikian canggihnya.
Seakan
dunia ada didalam genggaman kita, sekat-sekat antar Negara seperti terbuka
lebar. Sehingga satu peristiwa atau informasi yang terjadi pada hari ini di
satu Negara terjauh sekalipun, hari ini pula dapat kita ketahui. Demikian pula
kemajuan-kemajuan di bidang lain, telah dapat mempermudah kegiatan manusia
dalam memenuhi hajatnya.
Kemajuan
tersebut sekaligus menjadi tantangan umat Islam, paling tidak mestinya umat
Islam bisa memanfaatkan kemajuan ini demi perkembangannya dan menjadikan Islam
sebagai wahana untuk rahmatan lil alamin. Meskipun kita sadar bahwa adanya
kemajuan di segala bidang sekarang ini di sisi lain membawa dampak yang sangat
luas. Sebagian dari kita umat Islam nyatanya belum mampu menerima ini semua,
bahkan diantara kita yang terpengaruh begiitu jauh dan bahkan tergila-gita
dengan kemajuan tersebut, sehingga banyak yang lupa akan jati diri, kebutuhan
rohani terabaikan, meremehkan peranan agama, bahkan meninggalkan sama sekali
akan perintah agama, msekipun di bajunya masih ada atribut Islam. Mereka
terbuai dengan kenikmatan dan kemudahan yang diperoleh dari adanya kemajuan
zaman yang serba indah.
Keadaan
seperti ini terjadi disebabkan oleh karena pertahanan iman yang sangat rapuh.
Keimanan yang sangat rapuh ini menjadikan kita sangat mudah tertipu oleh
gemerlapnya dunia, sehingga makin lama iman kita menjadi luntur dan terkubur.
Maka bila iman kita telah luntur dan terkubur, tentu agama akan
tertinggalkan. Agama hanya dijadikan
identitas semata, “Kamu hari ini jmlahnya banyak, akan tetapi kamu bagaikan
buih diatas permukaan air, dicabut rasa takut musuhmu terhadapmu, dan
menjadikan dalam hatimu al wahn, cinta dunia dan takut mati”. (HR.Ahmad).
Begitu
pula bagi sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa beribadah tidak akan
menjadi kaya, tentu sangat merugikan bagi keutuhan iman. Hal itu lama-kelamaan
akan mengikis motivasi keagamaan umat Islam, sebab dipandang bahwa agama
menjadi tidak penting, tidak ada gunanya bagi hidupnya. Bahkan agama dianggap
menjadi penhambat kemajuan, menghambat kegiatan duniawiyahnya, sehingga waktu
yang digunakan untuk melaksanakan perintah agama, menjadi terbuang sia-sia.
Kecenderungan yang berlebihan terhadap urusan keduniaan menjadikan kita
melecehkan agama, seolah-olah agama sudah tidak dibutuhkan lagi, yang
menjadikan kita malas berfikir akan hakekat hidup yang sebenarnya. Kita telah
diperhamba oleh dunia dan permainannya, “Sesungguhnya hidup dunia hanyalah
permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertqwa, Allah akan
memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”. (QS.
Muhammad:36).
Keadaan
seperti ini menjadi tantangan yang sungguh berat bagi pelaksana kegiatan
dakwah. Didalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat modern ini, seseorang
da’I dituntut mempunyai inovasi dalam berdakwah, dengan cara mencoba yang baru
didalam kegiatan dakwahnya. Meskipun jalan yang ditempuh terlihat kontroversi,
atau mungkin bagi kebanyakan orang kegiatan itu sangat sederhana. Langkah awal
menuju dakwah inovatif ini adalah adanya keberanian untuk mau mengambil resiko
sekecil apapun. Sebab berbicara masalah dakwah adalah berbicara masalah umat
dengan segala problematika kehidupannya, untuk dicarikan solusi pemecahan.
Sehingga apa yang ia lakukan merupakan media jihad dan media hijrah menuju
kesempurnaan tatanan hidup dalam kehidupan manusia.
Keberhasilan
langkah-langkah dakwah yang kita lakukan juga banyak ditentukan adanya
pengalaman pelaksana dakwah. Sebab pengalaman merupakan guru yang sangat
bijaksana. Orang yang mempunyai pengalaman banyak, didalam tindakannya banyak
pilihan-pilihan. Apabila satu langkah dirasa kurang tepat ia akan mengambil
langkah lain yang lebih sesuai. Di sisi lain ia tak segan-segan belajar dari
pengalaman orang lain. Dengan demikian ia akan mudah menghadapi perkara-perkara
yang ruwet sekalipun. Dengan pengalaman-pengalaman yang dimulai dengan mencoba
lalu salah akan timbul penalaran yang luas, matang jiwanya. Sehingga mempunyai
sikap yanga rif dan bijaksana. Sebab banyak orang yang hidupnya secara
duniawiyah berhasil dimulai dari mencoba perkara-perkara atau usaha baru yang
sebelumnya belum dimengerti.
Mencoba
yang baru merupakan tindakan yang banyak mengandung resiko. Namun yang namanya
resiko, sebetulnya merupakan hal yang lumrah dalam setiap kegiatan. Da’I dan
mubalighpun menghadapi resiko yang sangat berat, ia sering mendapat tantangan
dari orang yang senang berbuat kerusakan. Seorang da’i/muballigh sering dicaci,
dikritik dan tindakannya selalu dievaluasi orang lain. Kerenanya ia merupakan
agent of change dan central figure yang berupaya menempatkan diri sebagai
pembaharu moralitas umat, menuju kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Maka
inovasi dakwah merupakan modal dasar akan keberhasilan dalam kegiatan mengajak.
Disisi lain seorang da’i/muballigh harus juga beerani
menjadi contoh bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus berani juga memulai
dari diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengajak orang lain. Karena jangan
sampai kegagalan diri ditulrkan kepada obyek dakwah. Sebab konsep “mengambil
yang baik dan meninggalkan yang buruk” sangat relevan sebagai slogan dakwah.
Meskipun slogan itu sering diartikan oleh obyek dakwah dengan arti yang
bersifat kebendaan (sandal-sepatu).
Masalahnya adalah mau
atau tidak mencoba perkara-perkara yang baru, yang disesuaikan dengan pola
pemikiran masyarakat di zaman modern sekarang ini. Sebab apabila kita
mengandalkan pada pola-pola konvensional, dikhawatirkan masyarakat merasa
jenuh. Sehingga hasil yang akan kita capai tidak akan terlaksana. Di sisi lain
menggunakan media canggih, sebagian masyarakat kita belum mampu. Ini justru
yang menarik dari ilmu dawah. Ilmu yang sangat kompleks permasalahannya, karena
langsung bersinggungan dengan pemenuhan hajat hidup umat diseluruh alam, yang mencakup dunia
akhirat. Meskipun dakwah sangat erat dengan persoalan iman dan taqwa kepada
Allah SWT, akan tetapi karena cakupannya
yang sangat luas itu, maka dakwah selalu menarik untuk dibicarakan. Sebagai
ilmu terapan, dakwah dibutuhkan adanya tangan-tangan yang inovatif.
Puncak dari
inovasi yang dimaksud adalah seorang da’I dan muballigh harus pandai-pandai
memilih materi dan mediayang tepat dalam menghadapi satu obyek dakwah. Sebab
bagi masyarakat modern, yang saban hari dihadapkan dengan rutinitas pekerjaan
yang sibuk, belum tentu cocok menggunakan media dakwah yang canggih. Sebab ada
kalanya mereka menginginkan nuansa baru yang lebih mendekatkan diri kepada
Allah SWT, misalnya dengan menggunakan media yasinan dan tahlin, membaca
asma’ul khusbna bersama-sama, mungkin lebih efektif dan mengena sasaran. Di
lain fihak untuk kalangan masyarakat pedesaan yang tradisionalis, mungkin saja
lebih tertaruk dengan cara dan media dakwah yang modern, misalnya dakwah
(menerangkan satu persoalan agama) menggunakan laktop, yang dilengkapi dengan
keterangan berbentu tulisan gambar-gambar ataupun vedio menarik justru lebih
mengena.
Tetapi meskipun
demikian kita harus tetap menggunakan cara yang hikmah, sebab dengan cara yang
Allah pilihkan ini insya Allah dakwah akan tetap menarik dan banyak diminati,
baik oleh pelaku maupun obyek dakwah. Dengan cara yang hikmah, Islam akan
selalu hadir di hati umat. Islam dapat dirasakan akan kebenarannya, serta
merasakanmakna yang sesungguhnya atas ajaran yang dikandungnya. Disini kita
menemukan ketenangan hakiki. Mereka merasakan bahwa ajaran Islam telah
memberikan terapi yang paling mujarab untuk mengatasi berbagai konflik
kejiwaan, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat)
dan rahmatbagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah
kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra’:82). Demikian
pula kita merasakan bahwa Islam menjadi sangat penting hadir ditengah-tengah
kemajuan industry, bahkan kemajuan yang secanggih apapun tetap sangat
dibutuhkan. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar